Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ponpes Miftahul Huda Kepanjen Malang, KH. MS. Abdul Wahab

Pondok Pesantren Miftahul Huda Kepanjen Malang, KH. MS. Abdul Wahab


Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda

Pondok Pesantren Miftahul Huda didirikan dan diasuh oleh seorang kyai yang kharismatik yaitu KH.Ms. Abd. Wahab. Beliau bukan asli penduduk Mojosari, melainkan pendatang dari Jawa Tengah. Beliau dilahirkan pada tanggal 15 Agustus 1925 dengan nama lengkap Muhammad Sueb Abdul Wahab dari pasangan suami istri Mohammad Najamudin dengan Salamah. Beliau mempunyai dua nama yang dijadikan satu. Nama Muhammad Su’eb adalah nama pemberian dari bapaknya Najamudin, sedangkan Abdul Wahab adalah nama pemberian dari kakeknya yang bernama Imam Turmuji. Desa kelahiran beliau adalah desa Bayem kecamatan Kutoarjo kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Beliau merupakan anak yang terakhir dari enam saudara.
 
Semasa remaja beliau tidak pernah mendapatkan pendidikan formal selayaknya pendidikan yang ada sekarang, yang memungkinkan darimana dan dari keturunan siapa saja dapat memperoleh hak untuk belajar atau mendapatkan pendidikan yang sama. Tidak sama halnya dengan yang beliau alami sekitar tahun 1940-an dimana saat itu Indonesia masih dijajah Belanda. Pendidikan saat itu sangat mahal dan sulit bagi penduduk pribumi. Sehingga pendidikan masa remaja beliau hanyalah pendidikan yang didapat dari belajar ilmu agama didikan orang tua sendiri, dan juga belajar di surau-surau yang ada di desa beliau waktu itu. (Hasil dari wawancara beliau tanggal 23 Agustus 2010)
 
Pada saat  beliau berumur 12 tahun yaitu tahun 1937, beliau dikirim oleh orangtua-nya ke pondok Krempyang Tanjunganom Nganjuk untuk mencari ilmu. Namun di pondok ini beliau tidak lama baru tiga bulan kemudian beliau pulang dengan alasan tidak terbiasa dengan kehidupan  di pondok pesantren. Dua tahun berikutnya, tepatnya tahun 1939 beliau berangkat lagi ke pondok yang sama, tetapi untuk yang kedua kalinya tidak lama juga beliau meninggalkan pondok dengan alasan yang tak jauh beda. Berikutnya kurang lebih satu tahun beliau berada di rumah yaitu tahun 1940 orang tua beliau mengirimkan lagi ke pondok yang sama (pondok Krempyang) dan untuk yang ketiga kalinya dengan alasan  yang tak jauh beda pula dan ditambah biaya yang kurang, beliau pulang ke kampung halaman. Tahun 1950-an beliau sekolah PBH (Pemberantasan Buta Huruf) disinilah beliau mengenal huruf latin dan sedikit bahasa Indonesia. Semula beliau menganggap, “ Sekolah untuk apa ?” Kakak dan orang tua saya tidak sekolah juga dapat mencari makan dan dapat bekerja” kata beliau.
 
Dengan bekal sekolah di PBH, semasa pemilu tahun 1955 beliau berkesempatan untuk menjadi ketua P3S (ketua KPPS) dengan hanya bisa baca dan menulis huruf latin saja, karena saat itu sangat sulit mencari orang yang bisa membaca dan menulis huruf latin. Pada saat itu beliau sangat prihatin, dimana sulitnya mencari orang Islam yang dapat membaca dan menulis huruf latin (pendidikan umum) untuk dijadikan panitia pemilu. Kondisi inilah yang menjadi motifasi dan latar belakang beliau untuk membentuk pendidikan yang dibina nanti, beliau ingin mendirikan lembaga pendidikan yang paralel antara pendidikan agama dan pendidikan umum.
 
Menjelang usia 30 tahun beliau berangkat lagi kepondok yang sama (Pondok Pesantren Darussalam Krempyang Tanjunganom Nganjuk). Pada usia dimana menurut usia ukuran belajar saat ini terlambat, tidak menjadikan beliau kecil hati  terhadap para santri yang usianya relatif lebih muda dan cukup sesuai beliau di pondok waktu itu, sehingga tidak pulang-pulang lagi seperti sebelumnya. Satu hal yang tidak dapat dilupakan oleh beliau sebagai nostalgia (kata beliau) yaitu semasa belajar di pondok pesantren, santri atau teman-teman santri lain memanggil beliau dengan “Mbah Wahab” karena usia beliau saat itu kurang lebih 30 tahun. Merupakan usia paling tua diantara santri-santri yang lain.
 
Patut diteladani dan diikuti yaitu ketekunan dan kemandirian beliau dalam belajar. Pada waktu beliau belajar di madrasah Mu’alimin Darussalam Krempyang, beliau lebih banyak belajar mandiri.(Wawancara beliau tanggal 23 Agustus 2010). Hal semacam ini membuat beliau menyelesaikan materi disetiap kelas sebelum waktunya dan dinaikkan kelas tidak secara berkala tetapi tiap cawu atau semester oleh guru beliau (keterangan hasil wawancara dari Kiyai Nastain Urek-urek Gondang legi yang merupakan keponakan beliau dan temen beliau mondok, tanggal 25 Agustus 2010).
 
Secara singkat beliau belajar di pondok pesantren secara efektif kurang lebih 22 bulan (antara tahun 1955 – 1957). Pada tahun 1957 sampai 1959 beliau melakukan semacam PPL (latihan mengajar), di tahun itu juga beliau mengikuti pendidikan formal (umum) dan mendapatkan ijazah Mu’alimin Darussalam Krempyang. Tahun 1961 beliau ditugaskan untuk mengajar di pondok yang didirikan oleh alumni Krempyang di Kricaan Mesir, kecamatan Salam Muntilan Magelang Jawa Tengah. Di pondok tersebut beliau diberi mandat penuh oleh kyai karena pengasuh pondok tersebut (kyai Nur Salim) masih dalam keadaan sakit. Di pesantren inilah beliau bertemu dan mengajar seorang santri yang bernama Husen dari Malang Jawa Timur. Yang selanjutnya berlanjut pada tahun 1962 dengan berkunjungnya beliau kediaman santrinya yang ada di desa Mojosari kecamatan Kepanjen kabupaten Malang Jawa Timur dan pada akhirnya dapat membina ajaran pendidikan Islam di Mojosari sampai sekarang.
 

Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Huda

Masyarakat desa Mojosari kecamatan Kepanjen kabupaten Malang dimana Pondok Pesantren Miftahul Huda didirikan, merupakan suatu masyarakat yang heterogen, baik latar kehidupan, mata pencaharian dan pendidikan. Namun mayoritas penduduk Mojosari beragama Islam ± 98%.
 
Dari komposisi masyarakat terutama klasifikasi penduduk terhadap agama desa Mojosari sekitar tahun 1962 (awal datang kyai Abdul Wahab) pelaku Islam fanatik sekitar 5% selebihnya Islam KTP yang masih suka menjalankan adat kebiasaan yang melanggar dan menyimpang dari norma agama Islam. Misalnya : judi, minum-minuman keras, dan mengadakan tontonan rakyat. Dengan kompleknya permasalahan di daerah ini, maka tidaklah mudah bagi seorang ustadz (muballigh) mengembangkan syiar Islam disini.
 
Maka menurut penuturan beliau ada beberapa kyai yang bertabligh di desa Mojosari sebagaimana  yang diungkapkan oleh beliau:
 
“Sebelum kedatangan saya di desa Mojosari terdapat ada 9 kyai yang bertabligh dan mengembangkan agama Islam di desa Mojosari mereka diantaranya; Kyai Marhaban dari Surabaya, Kyai Maskuri dari Sutojayan Pakisaji, kyai Mahfudz dari Dilem Kepanjen, Kyai Santoso dari Solo, kyai Jamburi dari Ketapang Kepanjen dan kyai Mawardi dari Blitar. Kesemuanya rata-rata bertabligh tidak lebih dari 9 bulan. Kyai Abdul Wahab merupakan kyai terakhir bertabligh di Mojosari sampai sekarang.
 
Dari situ beliau ada ketertarikan untuk mencoba mengamalkan ilmu beliau di Desa Mojosari, akan tetapi beliau mencari cara apa penyebab dari kegagalan para Kiyai sebelumnya yang tidak bertahan lama ketika menyebarkan Ilmu dai Desa Mojosari. Kemtudian beliau mendekati tokoh agam yang ada di tetangga Desa Mojosari yaitu Mbah Wahab yang ada di Desa Dilem :
 
“Mbah wonten nopo kok di Deso Mojo iku lek ono Kiyai nyebarno ‘ilmune tapi orak suwe, oh jarene mbah wahab iku mergo di deso mojo iku mang wonge blok-blokkan. Lek blok kidul ono pengajian blok lor orak gelem melu bahkan  yo opo carane ngerusak penhajian mang, sewalike podo lek blok lor ono pengajian blok kidul orak gelem melu.
 
Dari keterangan diatas menunjukkan bahwa di Desa Mojosari terdiri dari firqoh-firqoh yang hubungannya tidak saling harmonis, sehingga sulit bagi para Kiyai untuk menyebarkan ilmunya  di daerah tersebut. Dari situ KH M.S. Abdul Wahab sudah memahami permaslahannya dan sudah mencari jalan keluar dan solusi bagaimana mengatasinya, yaitu dengan cara mengadakan pengajian di blok kidul (selatan) dan di blok lor (utara) dengan demikian sedikit demi sedikit KH. M.S. Abdul Wahab telah menghilangkan blok-blok tersebut dan bisa menyebarkan ilmu agam di daerah Mojosari. (Penuturan beliau 23 agustus 2010).
 
Kedatangan KH.Ms.Abdul Wahab di Mojosari semula hanya mengunjungi muridnya yang bernama M. Husen. Dia murid beliau di Kricaan Mesir kecamatan Salam Muntilan Magelang. Pada saat itu beliau mengajar dan diberi mandat penuh oleh kyai pondok tersebut yaitu kyai Nur Salim. Sebelum pulang murid beliau tersebut meminta pada kyai untuk dapat berkunjung kerumahnya, dan kyai menjanjikannya. Karena keinginannya yang begitu besar supaya kyai mau berkunjung kerumahnya saat itu, Bapak Husen memberikan uang kepada kyai sebesar  Rp. 100,- dan sebuah kacamata sekedar untuk tambahan ongkos perjalanan.
 
Tahun 1962 tepatnya bulan Syawal kyai memenuhi janjinya untuk berkunjung ke rumah Bapak Husen. Pada awal kedatangannya, beliau menyamar sebagai pembantu Bapak Husen (santrinya). Beliau mulai dengan latihan kerja keras, mencangkul dan menggembala ternak, beliau juga meminta kepada Bapak Husen untuk memperlakukannya sebagai pembantu, serta melarang Bapak Husen memanggil beliau dengan sebutan kyai atau guru. Sedang beliau memanggil Bapak Husen sebagaimana memanggil seorang majikan. Penyamaran ini  dilakukan kurang lebih dua bulan.
 
Masyarakat pada saat itu tidak menyangka bahwa beliau seorang kyai, karena beliau setiap keluar dari rumah Bapak Husen selalu mengenakan baju milik pembantu Bapak Husen yang sedang pulang ke rumah. Berakhirnya masa penyamaran atau diketahuinya identitas beliau yaitu pada saat sholat jum’at dimana imam yang menjadi khotib tidak hadir. Waktu itu yang menjadi khotib adalah bapak haji Khusairi yang dalam keadaan sakit. Sedang bapak haji Masykuri yang biasa menjadi imam  pindah ke dusun Pepen. Dengan kekosongan imam tersebut dan dorongan akan kewajiban sekian banyak warga yang melaksanakan sholat jum’at akhirnya beliau dengan terpaksa tampil untuk menggantikan imam dan khotib yang berhalangan, dan sekaligus berakhirlah masa penyamaran beliau.(Arsip catatan pribadi putrinya Neng Lu’luin Nisa)s.
 
Pada hari sabtu malam Minggu, ada anak minta kepada beliau untuk belajar mengaji yaitu;  Mahfud, Mahmud, Ihsan dan Slamet. Dan saat itu diberi pelajaran hanya sekedarnya saja, kyai berjanji akan memulai belajar pada hari Rabu. Anak yang ingin belajar mengaji semakin bertambah, pada hari Senin menjadi 8 anak. Jatuh pada hari yang dijanjikan yaitu hari Rabu menjadi 29 anak. Tempat pertama kali belajar mengaji di rumah Bapak Husen kampung masjid.
 
Pada pertengahan bulan Besar tahun 1962 masyarakat meminta diadakan pengajian umum (majlis ta’lim), tetapi beliau menjanjikan kepada mereka pengajian umum untuk orang-orang tua dimulai pada tanggal 10 bulan Muharom.( Adapun pemrakarsa pengajian umum itu adalah Pak Sri (H.Abdul Karim), pak Karto, pak Nyamar, pak Marsiman, pak Wakidi, pak H. Abdullah dan pak Kasim). Untuk pengajian rutin orang-orangtua ini bertempat di mushola kampung barat (mushola bapak Kastawi) yang dahulu dikenal  dengan kampung lancar. Beliau menyebut dengan kampung lancar karena masyarakatnya non blok. Karena saat itu terdapat dua tempat untuk melaksanakan sholat jum’at dan lima tempat untuk melaksanakan sholat hari raya. Semua itu disebabkan adanya perselisihan pribadi. Selanjutnya pada bulan Shofar masyarakat mengusulkan agar anak mengaji dibentuk sistem madrasah diniyah. Rencana ini terlaksana pada bulan Robiul awwal tahun 1962  bertempat di rumah Bapak Husen walaupun ala kadarnya, karena guru mengajinya masih beliau sendiri dan membaginya menjadi 4 kelas, dan muridnya saat itu bertambah naik ± 100 anak. Untuk murid yang belajar dengan sistem sorogan berjumlah kurang lebih 150 anak.
 
Pada tanggal 8 Agustus 1962 Madrasah pindah dari kampung tengah ke kampung barat. Pengurus dan sekaligus pelopor madrasah adalah bapak H. Abdullah dan saudara Husen. Pada bulan Ruwah tahun 1963 madrasah pindah lagi ke kampung timur di rumah H. Fauzi, rumah bapak Rohmat dan rumah bapak Husen. Kepindahan ini dikarenakan kyai menikah dengan seorang perempuan yang bernama Siti Marhamah dan mengikuti bertempat tinggal di rumah mertua beliau, pernikahan berlangsung saat beliau berusia 38 tahun sedang ibu Nyai Siti Marhamah berusia 13 tahun.
 
Perkembangan madrasah semakin lama semakin meningkat, sehingga kyai Abdul Wahab meminta bantuan kepada murid pertamanya diantaranya ; Abdul Latif, Kastoha, Sofyan, Sauri dan Ihsan. Pada bulan Syawal 1963 ada anak ingin belajar dan menetap (istilah jawanya mondok) yaitu ; Turmudzi, Hamami dan Ali mereka ini berasal dari Nganjuk. Karena saat itu belum ada tempat untuk menginap (guthe’an) akhirnya mereka ditempatkan di rumah H. Ali (mertua kyai).
 
Pada tahun 1963 kyai membangun gedung madrasah sebanyak tiga lokal didepan rumah mertua kyai. Pelaksanaan pembangunan gedung tersebut, diawali dengan peletakan batu pertama yaitu hari jum’at legi tanggal 20 Juli 1963 (bulan Dzulhijah). Adapun sebagai pelaksana pembangunan adalah bapak Nyamar, bapak Rohmat dan bapak Kasim. Sedangkan bagian kosumsi adalah ibu Nyai Karsimah (ibu Hj. Fatimah Ali).
 
Awal tahun 1964 kyai bersama istrinya pindah rumah lagi dari kampung timur ke kampung utara. Alasan pindah karena sekitar rumah mertua beliau (H. Ali) tidak memungkinkan untuk perluasan bangunan pondok, rumah dan madrasah. Tepat tanggal 10 Juli 1964 kyai membuat rumah pertama. Kyai Abdul Wahab merupakan salah seorang kyai jawa yang mengenal banyak ilmuu-ilmu kejawen, misalnya hitungan hari berdasarkan pasarannya . Hal ini sebagaimana catatan beliau setiap kali mendirikan dan membuat bangunan, penggalian pondasi  rumah dilaksanakan pada hari Senen pahing 1964. Peletakan batu pertama  pada hari Kamis kliwon  tahun 1964. Hal seperti ini sering beliau lakukan untuk bangunan-bangunan yang lain. Bangunan rumah pertama ini dihuni oleh keluarga kyai santri pondok dan santri kalong (santri yang tidak menetap di pondok).
 
Karena semakin banyaknya anak mengaji dan menetap di rumah kyai, akhirnya bagian serambi depan (bale rumah) diberi tempat pengimaman, yang berfungsi sebagi tempat ibadah (musholla) sekaligus untuk tempat belajar para santri. Hal ini terjadi tepat pada bulan Agustus 1965.
 
Santri yang belajar dan pengajian rutin yang diadakan di rumah kyai semakin bertambah jumlahnya, masyarakat menyebut rumah beliau sebagai pondok. Dan akhirnya pada tanggal 8 Agustus 1965 diadakan pengajian umum dengan mendatangkan mubaligh dari Kepanjen yaitu bapak Asnan Qodri. Karena mengetahui bahwa masyarakat menyebut rumah kyai sebagai pondok, maka bapak Asnan Qodri menyarankan kepada kyai untuk mencari nama yang tepat bagi pondok beliau ini. Kemudian kyai meminta petunjuk dari Allah dengan wasilah fatihah kepada guru beliau yaitu KH. Ghozali Manan, akhirnya dipilih nama “Pondok Pesantren Miftahul Huda”.  Dan nama ini diresmikan oleh bapak Asnan Kodri pada pengajian umum saat itu juga.
 
Berhubung rumah kyai sudah menjadi pondok pesantren dan mushola, kemudian sebagai alternatif berikutnya beliau membuat rumah lagi. Pembuatan rumah kedua ini tepatnya pada hari Senin Pahing, mulai penggalian pondasi dan peletakan batu pertama pada hari Kamis Kliwon bulan Agustus tahun 1965.
 

Struktur Organisasi 

Struktur adalah susunan dari beberapa orang dalam suatu organisasi atau kepengurusan. Dimana hal ini sangat diperlukan dalam suatu organisasi atau lembaga. Apalagi lembaga pendidikan seperti Pondok Pesantren Miftahul Huda. Yang memiliki tujuan untuk menjaga kelestarian, ketertiban dan keharmonisan antar pengurus, kyai dan santri. Sebagaimana yang disampaikan oleh KH.Ms.Abdul Wahab selaku pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda :
 
Susunan pengurus di pondok ini selain tokoh-tokoh masyarakat juga dari santri-santri senior untuk melatih mereka melaksanakan tanggung jawab. Karena mereka nanti adalah calon seorang pemimpin dimasa mendatang, sebelum mereka terjun kelapangan (masyarakat) mereka bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan kepadanya.
 
Dari keterangan KH. Abdul Wahab diatas bahwa struktur organisasi di Pondok Pesantren Miftahul Huda disamping untuk melatih bertanggung jawab pada sebagian santri, yang penting adalah untuk menjalankan program sebagai lembaga pendidikan. Karena bagaimanapun dalam menjalankan suatu lembaga harus ada struktur organisasi yang jelas.
 
Karena tanpa didukung oleh kepengurusan yang kuat keberadaan lembaga pendidikan yang telah lama berdiri lama-kelamaan akan hancur di serang oleh kelompok-kelompok atau orang yang bersebrangan dengan lembaga tersebut. Dalam menjalankan organisasi semua yang terkait harus saling bekerjasama dan berkordinasi dengan baik, karena satu tidak jalan maka yang lainpun akan merasakan imbasnya.
 
Lembaga yang sudah berhasil menjalankan roda struktur organisasinya akan berdampak pada kelangsungan lembaga-lembaga yang dinaunginya. Orang lainpun akan segan melawan karena sudah kuat, bisa jadi disegani oleh organisasi lainnya. Lembaga yang dinaunginya akan dapat berjalan secara baik dan maksimal.

Seiring dengan perkembangan jumlah santri yang semakin pesat dari tahun ketahun dan perkembangan pendidikan yang semakin meningkat, maka perlu kiranya sarana fisik Pondok Pesantren Mifathul Huda lebih ditingkatkan lagi. Memang sejak berdirinya (tahun 1964) sampai sekarang pembangunan berlanjut terus menerus walaupun dengan cara bertahab. Hal ini patut disyukuri karena pada tahun berdirinya yakni pada tahun 1964 hanya bangunan sebuah rumah kyai dan sekaligus dijadikan tempat sholat, dan disekat dibuat kamar para santri saat itu. Pengasuh dan pengurus tidak pernah putus asa untuk mengupayakan peningkatan dan kemajuan lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Mifatahul Huda dan tentunya dengan dukungan masyarakat sekitar, maka sampai saat ini telah berdiri beberapa bangunan atau sarana dan prasarana.

Posting Komentar untuk "Ponpes Miftahul Huda Kepanjen Malang, KH. MS. Abdul Wahab"